Mini Review: Prevalensi Vulvovaginosis di Indonesia

Shinta Nuraini, Yulia Herliani, Nunung Mulyani, Atit Tajmiati

Sari


Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) atau kandidosis vulvovaginalis merupakan infeksi mukosa vagina dan atau vulva (epitel tidak berkeratin) yang disebabkan oleh jamur spesies Candida. Infeksi dapat terjadi secara akut, subakut, dan kronis, didapat baik secara endogen maupun eksogen yang sering menimbulkan keluhan berupa duh tubuh. Infeksi pertama timbul di vagina disebut vaginitis dan dapat meluas sampai vulva (vulvitis). KVV merupakan salah satu infeksi yang paling banyak dikeluhkan wanita. Sekitar 70-75% wanita setidaknya sekali terinfeksi KVV selama masa hidupnya, paling sering terjadi pada wanita usia subur, pada sekitar 40-50% cenderung mengalami kekambuhan atau serangan infeksi kedua15.  Lima hingga delapan persen wanita dewasa mengalami KVV berulang, yang didefinisikan sebagai empat atau lebih episode setiap tahun yang dikenal sebagai kandidiasis vulvovaginalis rekuren (KVVR), dan lebih dari 33% spesies penyebab KVVR adalah Candida glabrata dan Candida parapsilosis yang lebih resisten terhadap pengobatan


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Anindita, W. dan Martini, S. 2006. Faktor Risiko Kejadian Kandidiasis Vaginalis pada Akseptor KB .The Indonesian Journal of Public Health. Vol. 3. No. 1. Juli. 2006. 24-28.

Appendix. A Laboratory Diagnosis of Sexually Transmitted Disease. Laboratory pdf : April 2011;92-9

Candidal Vulvovaginitis (editorial) 2012

Darmani EH.Hubungan antara pemakaian AKDR dengan Kandidiasis Vagina di RSUD dr Pirngadi Medan. Medan : Karya Tulis ; 2002

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jendral Pemberantasan Pentakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual Kandidiasis. Jakarta; 2004.p. 56-6

Ditta Harnindya, Indropo Agusni. Departemen/Staf Medik Fungsional Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya: 2010-2012 42-43

Indriatmi, W. 2003. Infeksi Herpes Genitalis pada Wanita. Jakarta: Kedokteran EGC.

John WW, editor. Vulvovaginal Candidiasis. Dalam :Sexually Transmitted Disease Treatment Guideline. Center for Disease Control and Prevention. MMWR;2011 .h. 45-8

Lumintang H, Martodihardjo S, Barakbah J. Fluor albus. Dalam: Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. 3ed. Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo Surabaya; 2005.h 130-2.

Murtiastutik D. Kandidiasis Vulvovaginalis. Dalam : Barakbah J, Lumintang H, Martodihardjo S, editor. Infeksi Menular Seksual. Surabaya: Airlangga University Press;2008. h. 56-64.

Odom RB et all. Andrew’s-Diseases of the skin, edisi ke-11. Philadelphia : WB Saunders Company; 2011.h.451-63

Saifuddin, Abdul Bari. 2011. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo.Edisi Ke-4 Cetakan Ke-4. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saydam, S.G. 2012. Waspadai Penyakit Reproduksi Anda. Bandung: Pustaka Reka Cipta.

Sobel JD. Microbiology. In: Vulvovaginal Candidiasis.New York: Revan Press,

LTD.2007.h.1961

Sobel JD. Vulvovaginal Candidiasis. In: Holmes KK, editor. Sexually Transmitted Diseases. 4th ed. New York: Mc Graw Hill; 2008.p. 823 – 35.

Sugiman T, Radiono S. 2000. Kandidiasis Vulvovaginalis. Dalam: Diagnosis dan Penatalaksanaan Dermatomikosis, Jakarta: FKUI.

Yosi A . Proporsi Spesies Candida dan Faktor Predisposisi yang Mempengaruhinya pada Penderita Kandidiasis Vaginalis di RSUP H.Adam Malik Medan : Karya Tulis ; 2007

Karo MB, Kamelia E, Miko H, Simanjuntak TP, Hatta M. Effects of Herbal Plants on Candidiasis Vulvovaginalis Therapy. American Journal of Laboratory Medicine. 2016;1(3):65-8.

Karo MB, Tambaip T, Hatta M, Simanjuntak T, Irmawaty L, Rina T, Kamelia E, Rahmawati F, Bintang M. A MINI REVIEW OF INDONESIAN MEDICINAL PLANTS FOR VULVOVAGINAL CANDIDIASIS, 2017. In vitro.;1101(1):25-50.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.